Bustami Zainudin,  Dilahirkan Untuk Menjadi Pemimpin

Nasabnya memang bukan dari kalangan yang memiliki segalanya, ia hanya anak seorang petani yang hidup dengan pendapatan pas-pasan, namun Bustami Zainudin bukanlah seorang yang mudah putus asa. Keuletan, kesabaran, semangat, keseriusan yang kadang dibumbui kekonyolan membawanya menjadi seorang pemimpin yang dicintai masyarakat Lampung.

Sejak kelahirannya, Bustami yang kerap dipanggil Si Belang semasa kanak-kanank ini memang telah menunjukan keistimewaannya. Dikutip dari buku Biografi Bustami Zainudin ‘Langkah Kuda si Belang’, Tubuh Bustami kecil memancarkan aroma wangi saat sembilu sang dukun bayi memotong tali pusatnya, aroma itu juga sempat membuat warga tetangga kampung kaget.

Perjalanan panjang kehidupan Bustami memang terasa perih, pedih, penuh onak dan duri, puncak kepedihannya terjadi saat Ia kehilangan sosok seorang bapak yang begitu dihormatinya saat usianya masih teramat belia. Namun di situlah tonggak kebangkitan Bustami. Ia yang sempat berjualan pempek dan es balon itu bertekad untuk meraih sukses demi menghidupi asa ibu dan saudara-saudaranya.

Tekadnya menjadi orang sukses ternyata membuahkan hasil, ia mampu menapaki puncak tertinggi pemerintahan di Kabupaten Way Kanan dengan menjadi seorang Bupati periode 2010-2015, banyak orang yang kenal beliau terkejut tapi tak sedikit pula yang menganggapnya biasa saja karena tak mengenal secara persis kehidupan awal Bustami yang berlumur kesusahan.

Sebelum menapaki karir politiknya, Bustami hanyalah seorang pengusaha ‘nekat’ di bidang properti, bahkan sebelumnya, Ia yang hanya berbekal selembar ijazah dan transkip nilai yang didapatnya dari Program Studi Fisika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Unila ini mencoba berbagai pekerjaan ‘recehan’ di Ibukota Jakarta. Ia sempat menjadi agen asuransi di Central Asia Raya salah satu anak perusahaan BCA, Ia juga sempat mengenyam pekerjaan di perusahaan biro jasa dan konsultan, sebelum akhirnya Ia menekuni bidang properti

Bidang property yang kala itu sempat megap-megap karena keruntuhan Orde Baru membuatnya harus ‘tiarap’, tapi Ia tak patah arang, peluang demi peluang dilirik Bustami termasuk mendirikan Koperasi Pondok Pesantren An Nuriyah di Jakarta dan itu menjadi jembatan aktivitas dan rezeki keluargantya disaat krisis.

Secara perlahan bisnisnya dibidang properti kembali menunjukan peningkatan seiring dengan pulihnya ekonomi bangsa. Di tengah kesibukannya berbisnis, Ia bahkan didaulat menjadi Wakil Ketrua REI DKI Jakarta. Tak cukup sampai di situ, Bustami juga ‘merangsek’ organisasi kepemudaan seperti Pemuda Pancasila dan Himpunan Pemuda Lampung (HPL) untuk aktivitas diluar kesibukannya sebagai pengusaha. Di kedua organisasi itu Bustami juga dipercaya menjadi Ketua.

Dari dua organisasi pemuda tersebut, menguatkan intensitas hubungan Bustami dengan banyak elite politik, Ia seolah menjadi simpul penting yang bisa menghubungkan orang daerah dengan pusat. Keberadaannya dipusaran politik nasional begitu lekat. Ia jadi begitu dengan tokoh politik seperti Akbar Tanjung, Agung Laksono, Wiranto, Yorrys Raweyai, Edwin Kawilarang dan banyak tokoh-tokoh lainnya.

Namun demikian, kedekatan dengan tokoh politik dan kancah politik hanya dimaknai Bustami sebagai jalan untuk masuk dalam pergaulan bisnis. Bustami saat itu tak begitu tertarik untuk ikut terjun langsung dalam politik praktis.

Pintu masuk menuju politik praktis timbul saat ia sadar dan melihat begitu banyak ketimpangan pembangunan yang terjadi di tanah kelahirannya, Lampung. Ia akhirnya memutuskan untuk membawa aspirasi masyarakat Lampung ke Jakarta dengan cara mencalonkan diri menjadi caleg DPR RI dari Kabupaten Way Kanan. Keputusan tersebut membuatnya sering kali mulang tiyuh.

Intensitas kepulangannya ke Way Kanan membuatnya lebih sering bertemu dengan Tamanuri, Bupati Way Kanan saat itu. Dan sekali lagi takdir Yang Kuasa memang tak pernah bisa dihindari, secara mendadak Bustami di ajak untuk ikut mendampingi Tamanuri sebagai Wakil Bupati Way Kanan dalam pesta demokrasi Pilkada 2005.

Kegamangan sempat menjalari nalar pikirannya, ia sadar bahwa ia bukan siapa-siapa dibanding tokoh-tokoh lain yang juga ikut mencalonkan diri, otaknya terus berputar, apakakah Ia mampu dan bisa mengejawantahkan keinginan masyarakat dalam pembangunan yang nyata, ditengah kegamangan itu, Tamanuri akhirnya berhasil meyakinkan hatinya bahwa ia pasti bisa.

Pengabdiannya sebagai Wakil Bupati berhasil ia jalani dengan baik, Bustami yang mendapat respon positif dari masyarakat Way Kanan, memberanikan diri untuk kembali maju dalam Pilkada 2010, kali ini ia maju sebagai Bupati dan berhasil menduduki jabatan tertinggi di Kabupaten Way Kanan tersebut.

Agresivitas Bustami mendorong akselerasi pembangunan Kabupaten Way Kanan yang semula berjalan lambat dipacu untuk berjalan lebih cepat. Berbagai program digulirkan, Ia membidik orang-orang sukses asal Way Kanan dan Lampung untuk berinvestasi. Program unggulan bertajuk “Way Kanan Bumi Petani” membuat ekonomi Kabupaten Way Kanan melaju dengan cepat dan bahkan berhasil mengejar keteringgalan.

Roda perekonomian yang terus melaju dengan cepat, menyebabkan perubahan fisik kehidupan di kampung juga terus menggeliat. Membaiknya ekonomi berimbas pada kesadaran masyarakat akan pentingnya pendikan dan kesehatan. Tak sedikit orangtua yang pada awalnya tak sanggup menyekolahkan anaknya, pada akhirnya mampu membuat anak-anak mereka berpendidikan tinggi.

Bagi warga yang tak mampu, pemerintah daerah yang dipimpinnya menyediakan beasiswa penuh untuk masuk dalam program D-3 Perkebunan yang digagas Bustami bersama Unila. Adalah rencana besar Bustami agar Way Kanan, tanah kelahirannya menjadi maju secara fisik, sejahtera secara ekonomi, kuat secara mental dan bermartabat di mata Allah Yang Esa.

Kini Bustami Zaenudin sang Senator Lampung tersebut membidik rencana yang lebih besar, ingin menjadikan Provinsi Lampung sejajar dengan Provinsi-provinsi besar di Indonesia bahkan di dunia. Keinginanan tersebut akan diwujudkan lewat pencalonannya sebagai Calon Anggota DPD Provinsi Lampung dengan nomor urut 29.

Mengusung konsep Mulang Tiyuh dengan moto “Membangun Desa Menata Kota” Bustami berencana mengembangkan empat sektor utama yaitu Pertanian, Pendidikan, Pariwisata serta sektor Perdesaan yang menurutnya akan mampu membawa Lampung menjadi provinsi yang maju yang dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, konsep tersebut pernah ia terapkan di Kabupaten Way kanan dan telah terbukti mampu membawa Kabupaten Way Kanan dalam kesejahteraan.(RS*****)

Leave a Response